Social Media, Menulis & Douwes Dekker

Social Media

Seberapa sosialkah kita? Punya berapa teman di facebook? follower di tumblr dan twitter? Seriously, bagi saya yang paling mungkin bertahan lama mungkin wordpress, dan flickr. Saya cuman hobi foto dan masak, menulis? Masih belajar juga. Tapi tumblr sangat menyenangkan, gambar yg di post oleh user yg kita follow cukup membuat tersenyum di pagi hari. FB? pingin di delete, alasan nggak del cuman sayang teman-teman aja, sudah banyak orang yg ada disitu, berbagai negara pula, Spanyol, Italia, Perancis, Jerman, Lithuania, Turki, etc… dan tentunya orang Belanda. Belum teman2 angkatan kuliah, SD, SMP, SMA, keluarga jauh, semua mesejnya lewat FB klo nggak urgent, gratis sih.

Menulis & Hobbi

Main2 di semua social media membutuhkan waktu yang banyak.  Dan tuntutan menjadi seorang pendidik dan pengajar memang mengharuskan untuk kreatif dalam nulis yang membutuhkan waktu yang juga tak sedikit. Saya baca kemarin pak Goen tidur sedikit sekali, paling hanya tidur 2-3 jam an sehari. Pulang jam 4 pagi, jam setengah 7 udah berangkat lagi? Itu penulis dan editor majalah. Padahal seorang pendidik (aka dosen atau pengajar wannabe) diharuskan untuk (paling tidak) ada 3 kegiatan:

  1. Menulis (-kan ilmunya),
  2. Mengajar (tentu, apalagi kerjaannya), serta
  3. Merencanakan bahan ajar,

Belum lagi ngoreksi ujian dan tugas, Bikin paper ilmiah, Menulis buku (kalo bisa), *lho kok jadi 6..? Lha kapan saya mendidik anak dan mengurus rumah? Hahahah lucu lucu, bayangin aja kok udah repot ya. Dalam waktu dekat, target menulis akademik cuman 3, yaitu selesaikan buku master thesis yg menurut saya berjudul cukup bombastis serta panjang: “Application of TETRAD in Theory Development in Knowledge Sharing Literature: Case-study based Approach” , yang kedua kalo bisa ikutan lomba menulis essay ini dan ingin submit paper tentang Integrated Systems for Education Information untuk level Sekolah Menengah Pertama (SMP) di journal itu, dengan kasus di SMP nya Ayah, di SMP Papar 1. Itu masih target akademik. Nanti kalo pulang, ya bertambah lagi, bantuin SI bikin bahan ajar, ngajar, dan segala kegiatan lain yg berhubungan dengan jurusan (dan alumni?).

Belum lagi kepingin sekolah lagi (doktor), nyiapin riset proposal, tes ielts lagi (karena tes udah kadaluwarsa), dan kalo pinginnya nembak ke US, harus pass GRE. Mending nggak usah US wes, ke Eropa aja kali ya. Mungkin UK pilihan yang oke, bisa ketemu Noel Gallagher untuk yg kedua kalinya!

Belum hobi foto, masak dan baru2 ini suka sama seni videografi – banyak ilmu dari kenal online mas Andika di Vimeo sama kenalan baru yaitu pak Marco, meski kenal hanya lewat message. Tapi semoga krucil satu yg sayang sekali sama Yangti dan Yangkung di rumah, Kakak Rani yg kemarin 15 Februari berusia 2 tahun, jadi obat stress semua kerjaan. Saya rasa keluarga bahagia (lahir batin) memang obat paling mujarab diantara semua kesibukan kerjaan, hiruk pikuk social media yg ramai ini dan itu. Terkadang social media juga menjadi salah satu penyebab tragedi, yg menurut saya udah keterlaluan. What? Hanya dengan mainan FarmVille?! Saya seumur-umur nggak pernah mainan di FB, cuman posting foto ke PhotoVoo, udah itu thok. Twitter? not that much. Saya cuman ingin follow orang-orang yang saya kagumi. Saya juga nggak punya banyak follower, nggak penting. Saya lebih doyan log-in Tumblr dan liat foto2 bagus yang bikin hati gembira =) hitung2 menambah ilmu, mengasah kemampuan mata untuk melihat yang bagus, termasuk ilmu dari kontak2 di Flickr. Saya nggak berniat jadi jago foto, fotonya beautiful and unforgettable, itu udah lebih dari cukup. Nggak perlu yang heboh2 dengan lensa super, nggak minat soalnya. Punya 2 lensa untuk sekarang udah lebih dari cukup.

Social media memang sangat mengasyikkan, itu salah satu sumber informasi saya. Tapi ya itu tadi, jangan sampai lupa waktu. Kalau saya, seringnya keasyikan ngedit foto dan liat foto2 bagus. Kalau ingin tenang dan belajar, internet memang harus mati. Belum lagi godaan untuk nonton film. Kita harus terus banyak belajar, karena pada dasarnya kita nggak boleh berhenti belajar. Jadi ingat waktu ke library nya Enschede yg di centrum, dekat Heet-Oosten, di jalanan sekitar De-Slegte yg lurus itu, saya kesana pas liburan tahun baru (niat amat karena university tutup), disana yang banyak baca adalah para Opa. Waduh duh, kok bisa ya, jumlah yang muda lebih sedikit daripada yg tua.

Douwes Dekker

Saya acungin jempol, Belanda memang pantes untuk maju, orang2nya super rajin, nggak tua dan muda. Salut (tapi saya nggak salut untuk penjajah kita, salut sama dosen2 dan orang2 hebat yg ditemui disini). Termasuk idola para bapak pendiri bangsa, Multatuli – yang kata pak Pram, Multatuli adalah salah satu tokoh penting pergerakan revolusi bangsa-bangsa kulit berwarna, dimana pelopor kemerdekaan untuk koloni Eropa pertama kalinya adalah Indonesia. Multatuli alias Douwes Dekker itu menulis buku Max Havelaar dengan judul buku in DutchMax Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij, atau yang artinya Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company, buku yang mengisahkan bagaimana penjajahan khususnya di tanah Jawa, dan menjelaskan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang membuat rakyat Indonesia menderita. Berarti dalam hal ini, sebagai seorang tokoh yg beregrak di bidang politik, dia menggunakan tulisannya untuk memaksa para Nederlander itu, memberikan keadilan bagi rakyat Indonesia. Balik lagi, seorang Nederlander yg seharusnya tidak menggunakan perasaannya, Douwes Dekker masih menganggap orang-orang Jawa sebagai orang yg juga punya harkat dan martabat. Seperti semboyan yg ia pegang, bahwa tujuan hidup adalah memanusiakan manusia. Multatuli sendiri berasal dari bahasa Latin, yg artinya “I have suffered enough, Aku sudah menderita cukup banyak”. Jika ingin membacanya dalam bahasa Inggris, buku Max Havelaar online ada disini.

To Multatuli — Eduard Douwes Dekker, whose work sparked this process, this world owes a great debt.

Tulisan yang memuat phrase tentang Douwes Dekker ini dibuat oleh pak Pram dan dimuat di NYTimes, 18 April 1999. Saya udah baca tulisan pak Pram ini berkali-kaliNggak pernah bosen. What a writing. Baca saja. Saya aja merinding bacanya. Saya belum sempat baca buku-buku pak Pram. Semoga nanti pas di Indonesia punya waktu. Semoga nanti bisa nyonto beliau bikin tulisan yang bermutu. Ini kok dari social media merambah ke Douwes Dekker ya? Anyway, saya berharap semoga semua ilmu yg saya dapatkan dari sini berguna kelak untuk orang lain.

*) Judulnya saya edit, karena ternyata isinya nggak soal social media thok. Ternyata milih judul tulisan itu sulit ya..

Patung Multatuli di Amsterdam, tepatnya di daerah deket2 Het Spui kalo nggak salah
Ayah dan Irma di sekitaran Damrak, Amsterdam. Summer 2009.
Advertisements

6 Comments

  1. Semua kisah yang terjadi setelah hijrah di Belanda nih. Nengku jadi makin luas pengetahuannya gara-gara satu… koneksi internet banter.

    Setelah itu juga nyari-nyari buku Max Havelaar dalam bahasa Belanda asli (dibaca gak tuh?). After that lovely dinner at Sam-sam sambil berbicara ngalor ngidul. 😀

    1. kisah hijrah? ckckc mosok? 😀 internet emang harus banter ya, bikin orang pinter, betul sekali. karena klo nggak ada buku kan at least bisa nanya wiki atau mbah google..

      max havelaar buku di hari tua aja lah kekeke.. ngobrol ngalor ngidul kok dikiranya Spanish, hebat boso jowone kene berarti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s